Six Sigma

Selasa, 08 Juni 2010 19.39 By Akang Ikhsan

Pengertian

Six Sigma merupakan konsep statistik yang mengukur suatu proses yang berkaitan dengan cacat (Bruce, 2002) kinerja sebuah proses atau sebuah produk, yang tujuannya nyaris mencapai sempurna untuk perbaikan/peningkatan kinerja (Pande & Larry Holpp) dengan sebuah sistem yang komprehensif dan fleksibel untuk mencapai, mempertahankan, dan memaksimalkan sukses bisnis (Pande, Neuman & Cavanagh, 2000).

Six Sigma mengedepankan pelanggan dan menggunakan fakta serta data untuk mendapatkan solusi-solusi yang lebih baik. Adapun bidang usaha yang menjadi target usaha Six Sigma adalah: Meningkatkan kepuasan pelanggan , Mengurangi waktu siklus dan Mengurangi defect (cacat).

Metode Six Sigma dirancang untuk membantu menghilangkan cacat dan selalu menghasilkan produk dan jasa yang memenuhi spesifikasi pelanggan. Adapun tujuan metode Six Sigma adalah menghubungkan proses-proses internal dan sistem manajemen dengan tuntutan konsumen menggunakan pendekatan ilmiah pada manajemen, yang didasarkan sepenuhnya pada data. Sehingga mendorong organisasi agar lebih ilmiah dalam pengambilan keputusan dengan mendasarkannya pada data terukur.

Metodologi Six Sigma menggunakan alat statistik untuk mengidentifikasi beberapa faktor vital. Faktor-faktor yang paling menentukan untuk memperbaiki kualitas dan menghasilkan keuntungan yaitu dengan menggunakan metode DMAIC.

Manfaat Six Sigma

Beberapa manfaat yang menarik perusahaan-perusahaan kepada Six Sigma, antara lain:

* Menghasilkan sukses berkelanjutan
* Mengatur tujuan kinerja bagi setiap orang
* Memperkuat nilai kepada pelanggan
* Mempercepat tingkat perbaikan
* Mempromosikan pembelajaran dan “cross-pollination”
* Meningkatkan profit
* Melakukan perbaikan proses
* Melakukan perbaikan pada produk dan layanan
* Memperbaiki metodologi desain proses
* Meningkatkan skill karyawan dalam memperbaiki proses

Sedangkan manfaat Six Sigma bagi pelanggan adalah produk atau pelayanan bermutu tinggi dan biaya yang murah sehingga harga dari produk atau jasa akan murah.


Langkah-langkah Pengimplementasian Six Sigma

Meliputi 5 aktivitas/fase yaitu: Define (D), Measure (M), Anayze (A), Improve (I) dan Control (C), yang lebih dikenal dengan DMAIC. Metodologi DMAIC (Bruce,2002) digunakan untuk menentukan akar masalah dan mengimplementasikan penyebab-penyebab kecacatan. Seperti model-model perbaikan lainnya, metodologi DMAIC juga didasarkan pada siklus orisinil PDCA. Berikut penjelasan tentang istilah DMAIC sebagai berikut:

Define (Tentukan); mendefinisikan masalah atau kemungkinan terjadinya sebuah masalah, pada sebuah proses atau prosedur yang mempengaruhi kepuasan konsumen. Dalam fase ini menjelaskan tentang pengurangan produk cacat. Selain itu juga menetapkan tujuan-tujuan proyek dan apa yang harus diserahkan kepada konsumen.

Measure (Ukur); tindakan mendefinisikan dan mengidentifikasikan key measurements dan mengumpulkan data pada proses perakitan, dan menyediakan sebuah kesimpulan untuk sebuah evaluasi yang dilakukan untuk beberapa karakteristik yang didasarkan pada pengumpulan data observasi.

Analyze (Analisa); tindakan dimana proses, prosedur, atau jasa secara detail diperiksa untuk peluang proses perbaikan.

Improve (Tingkatkan); sebuah segmen yang mendefinisikan bahwa solusi dan ide diterapkan sesuai dengan peraturan yang ada. Fase ini juga berarti memperbaiki proses dengan melawan akar penyebab permasalahan.

Control (Kendalikan); menentukan kemampuan untuk mengendalikan beberapa faktor vital, menetapkan toleransi pengoperasian, dan mengesahkan pengukuran. Pada dasarnya, Control merupakan mekanisme mengontrol proses perbaikan untuk mendapatkan manfaat (keuntungan).


Alat-alat bantu dalam penerapan konsep Six Sigma

Beberapa alat bantu yang digunakan perusahaan dalam penerapan konsep Six Sigma diantaranya ialah: Pareto Chart, Fishbone Diagram (Diagram Sebab-Akibat), Brainstorming dan Check Sheet. Pareto Chart (Diagram Pareto), adalah diagram yang dapat menunjukkan probabilitas besarnya cacat untuk setiap jenis cacat yang diamati. Sehingga dapat diidentifikasi jenis kecacatan utamanya, untuk kemudian dilakukan perbaikan. Alat ini merupakan metode untuk menentukan masalah mana yang harus diutamakan untuk diselesaikan. Pareto Chart mendasarkan keputusannya pada data kuantitatif, dengan menggunakan prinsip 80:20, artinya 80% peningkatan dapat dicapai dengan memecahkan 20% masalah terpenting yang dihadapi. Fishbone Diagram (Diagram Sebab-Akibat), merupakan suatu diagram yang dapat menunjukkan penyebab-penyebab dari kecacatan utama yang terjadi. Penyebab tersebut biasanya ditinjau dari faktor-faktor sebagai berikut: man, machine, material, method,measurement dan enviroment. Dengan demikian dapat diketahui apakah faktor-faktor tersebut merupakan penyebab kecacatan atau tidak. Fishbone Diagram terdiri dari dua bagian yaitu: Kepala Ikan (Akibat): Bagian ini berada di sebelah kanan, yang memuat persoalan (kecacatan/hasil kerja), yaitu akibat yang terjadi. Tulang Ikan (Penyebab): Duri-duri tulang ikan menggambarkan penyebab yang banyaknya sesuai dengan penyebab yang ditemukan. Setiap ujung dari tulang ikan akan berupa anak panah yang menunjukkan ke kepala ikan dimana hal ini akan menjelaskan bahwa faktor penyebab berhubungan dengan akibat. Adapun fungsi dasar dari Fishbone Diagram adalah untuk mengidentifikasi dan mengorganisasi penyebab-penyebab yang mungkin timbul dari suatu efek spesifikasi dan kemudian memisahkan akar penyebabnya. Macam-macam diagram ini diantaranya: Standar Fishbone: mengidentifikasi penyebab yang mungkin dari suatu masalah yang tidak diinginkan dan bersifat spesifik. Diagram Fishbone terbalik: mengidentifikasi tindakan yang harus dilakukan untuk menghasilkan efek atau hasil yang diinginkan. Brainstorming (Sumbang Saran), merupakan cara yang efektif untuk mengumpulkan ide atau pendapat dengan partisipasi seluruhpeserta yang terlibat. Sehingga peserta menjalani pola berpikir kreatif. Metode ini berfungsi sebagai sarana yang efektif dalam menemukan persoalan-persoalan yang dihadapi dan juga mengetahui penyebab-penyebab yang mendominasi. Check Sheet (tally sheet), adalah cara yang sistematik untuk mengumpulkan dan mengecek data, baik dari data masa lalu maupun data yang diperoleh dari hasil pengamatan saat ini. Sedangkan, informasi yang diperoleh dapat menyatakan pola atau trend yang tejadi. Check Sheet merupakan bentuk yang sederhana, yang dirancang untuk memungkinkan penggunanya mencatat data khusus dan dapat diobservasi mengenai satu atau beberapa variabel.


Daftar Pustaka

http://www.digilib.petra.ac.id,2004, Six Sigma (Chapter-2), diakses 10 September 2009

Pande, Peter S., Robert P. Neuman & Roland R. Caavanagh, 2002, The Six Sigma Way (edisi Bahasa Indonesia), Penerbit ANDI:Yogyakarta.

Benchmark

Sabtu, 05 Juni 2010 06.17 By Akang Ikhsan

Pengertian
Dengan berkembangnya permasalahan yang sedang atau diprediksikan akan dihadapi, berdasarkan adanya informasi yang berkaitan dengan kinerja proses bisnis. Sehingga suatu korporasi dituntut untuk dapat melakukan suatu antisipasi ke depan dengan mempersiapkan solusinya. Hal ini ditujukan untuk mempertahankan keeksistensian suatu korporasi. Langkah tersebut dilakukan dengan suatu pembelajaran yang disebut Benchmark.
Benchmark adalah suatu cara mempelajari dan membandingkan aktivitas proses bisnis terhadap korporasi lain yang telah mengimplementasikan dengan sukses solusi terhadap suatu permasalahan. Kemudian bagaimana cara melakukan benchmark? serta bagaimana cara suatu korporasi dalam melakukan benchmark? meskipun terdapat berbagai pendekatan yang berkaitan dengan hal tersebut, namun yang umum ialah benchmark menggunakan informasi mengenai hasil kinerja dari korporasi yang menjadi tolak ukur bagi korporasi yang melakukan Benchmark. Korporasi yang dilakukan Benchmark haruslah suatu korporasi yang diakui terbaik dalam bidangnya. Dengan adanya aktivitas Benchmark maka korporasi tersebut dapat melakukan peningkatan kinerja, bahkan lebih baik dari korporasi yang menjadi pembandingnya. Seperti halnya dalam menerapakan solusi terhadap permasalahan yang terjadi.
Benchmarking adalah alat bantu untuk memperbaiki kualitas dengan aliansi antar partner untuk berbagi informasi dalam proses dan pengkuruan yang akan menstimulasi praktek inovatif dan pemperbaiki kinerja (Dwi Sulisworo,...) dengan melakukan pembandingan tehadap suatu korporasi yang memiliki standar kinerja terbaik (Wikipedia, 2007). Sehingga semua itu dapat meningkatkan proses perbaikan dengan menjadikan korporasi pembanding sebagai model nyata dalam pengembangan solusi. Dengan Benchmarking suatu korporasi dapat memperbaiki performansinya. Seperti: Penggunaan biaya, Waktu, Produktivitas dan kualitas. Untuk dapat meningkatkan kinerjanya, suatu korporasi perlu secara berkesinambungan dalam mencari inovasi baru melalui metode, praktek, proses dan melakukan suatu proses uji kelayakan dalam menerapkan keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh koporasi pesaing untuk diterapkan di dalam korporasi tersebut, sehingga dapat menjadi suatu korporasi terbaik dalam bidangnya.


Manfaat Benchmark
Adapun beberapa manfaat Benchmark diantaranya:
  1. Melakukan perbaikan pada kondisi kritis dalam suatu bisnis, 
  2. Bertujuan menciptakan orientasi yang positif pada pelanggan, 
  3. Menumbuhkan antusias staf dengan memperhatikan yang terbaik, 
  4. Mengidentifikasi peluang-peluang baru yang terkadang muncul setelah melakukan perbandingan antar korporasi. Selain itu solusi-solusi terhadap permasalahan yang memiliki kesesuaian, 
  5. Meningkatkan daya saing antar korporasi,
  6. Memperpendek siklus perbaikan proses bisnis dengan percepatan pembelajaran.
Prosedur Benchmark
Untuk dapat melaksanakan Benchmarking dengan sukses perlu diikuti prosedur penerapan Benchmarking di bawah ini:
  1. Melakukan identifikasi proses yang ada dengan melakukan pemetaan proses. seperti: top-down flowcharts, wall maps, product process maps atau value-added flow analysis, 
  2. Mengidentifikasi harapan pelanggan terhadap proses yang dimiliki dengan cara mereview pengukuran kinerja proses yang ada dibandingkan dengan harapan pelanggan. Langkah ini dapat dilakukan dengan melakukan percakapan secara informal terhadap customers, employees, atau suppliers.
  3. Mendefinisikan kinerja proses, Seperti: analisa pasar, analisa kualitas, survei, melakukan penyebaran kuisioner, re-engineering analysis, process mapping, quality control variance reports, atau financial ratio analysis. Sebab sebelum membandingkan antar satu korporasi dengan korporasi lainnya, perlu adanya pemahaman tentang internal korporasi yang dimiliki. 
  4. Mengidentifikasi Korporasi lainnya yang memiliki kesamaan proses; menggunakan teknik analisis tertentu untuk memahami sebab-sebab inefisiensi dalam proses. Beberapa teknik. Seperti: cause-effect diagram, Pareto diagram, dan control charts. 
  5. Mengidentifikasi Korporasi yang paling menguasai dalam bidangnya; sehingga tercapainya target benchmark berbasis analisis kinerja pesaing, dan harapan pelanggan. Identifikasi ini dapat dilakukan dengan melakukan konsultasi terhadap customer, supplier, Analis finansial, Asosiasi perdagangan, dan majalah-majalah yang melakukan pembelajaran terhadap korporasi-korporasi yang sukses.
  6. Survei Korporasi untuk melakukan pembandingan dan praktek; setelah diperoleh suatu korporasi yang memiliki kelayakan untuk dijadikan sebagai tolak ukur. Maka lakukanlah indentifikasi terhadap proses bisnis yang ada dalam korporasi tersebut. Sehingga atmosfer korporasi tersebut sangat dipahami.
  7. Lakukanlah kunjungan ke korporasi tersebut untuk dapat mengidentifikasi secara nyata; dengan demikian akan diketahui batas mana kebenaran informasi yang diperoleh yang menjelaskan kualitasnya. Sehingga korporasi tersebut dirasakan layak untuk dijadikan tolak ukur.
  8. Implementasikan dan kembangkan informasi aktivitas bisnis yang baru diperoleh; pemanfaatan peluang dalam pembelajaran untuk melakukan perbaikan dan peningkatan aktivitas bisnis dalam korporasi yang dimiliki. Hal tersebut untuk membuka peluang yang akan datang.


Jenis Benchmarking
Terdapat sembilan macam benchmarking berikut penjelasannya yaitu: 
Internal benchmarking memberikan pembandingan antara operasi atau proses yang sejenis dalam korporasi. 
Competitive benchmarking memberikan pembandingan antar pesaing untuk produk atau layanan tertentu (spesifik). 
Functional benchmarking memberikan pembandingan untuk fungsi sejenis dengan industri yang sama. 
Generic benchmarking memberikan pembandingan proses-proses yang independen pada industri atau fungsi secara keseluruhan.
Process benchmarking memfokuskan pada proses kerja atau sistem operasi tertentu (misal pembayaran, rekruitmen, komplain pelanggan, pengadaan) untuk menghasilkan hasil pada bottom line results, seperti peningkatan produktivitas, mengurangi waktu siklus produk, pengurangan biaya, peningkatan penjualan, mengurangi laju kesalahan produksi, dan peningkatan keuntungan.  
Performance benchmarking memfokuskan pada pembandingan produk atau layanan seperti pada harga, kualitas teknis, fitur produk, kecepatan layanan, dan keandalan. Beberapa alat manajemen untuk melakukan ini adalah reverse engineering, pembandingan langsung produk dan layanan, ataupun analisis startistik pada sistem operasi. 
Strategic benchmarking digunakan untuk menguji bagaimana korporasi dapat bersaing dan fokus pada indutri tertentu. Sasaran kuncinya adalah mengidentifikasi strategi yang unggul untuk menjadi korporasi yang berhasil. 
Product benchmarking proses perancangan suatu produk baru atau pengembangan produk yang telah ada. Proses ini dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing produk berdasarkan identifikasi terhadap kekuatan dan kelemahannya. 
Investor perspective benchmarking melakukan pembandingan antar korporasi dengan menciptakan alternatif kesempatan berinvestasi dengan membangun pandangan positif bagi investor.

Daftar Pustaka
Sulisworo, M.T., Dwi, Dr., Ir.,Tools Strategi Korporasi,
http://www.wikipedia.com,2007, Benchmarking, diakses 4 Oktober 2009
http://Blog.uad.ac.id/Sulisworo, Benchmark, diakses 4 Oktober 2009